Thursday, 5 November 2015
Home »
» Kakek nomer satu didunia
Kakek nomer satu didunia
kakek
Sungguh tak menyangka secepat ini engkau telah di panggil oleh sang pencipta padahal aku sebagai cucumu belum bisa membahagikanmu, tak ada yang bisa aku persembahkan kepadamu melainkan aku hanya bisa menganggkat kedua tangan dan bersimpuh di hadapannya agar engkau bahagia disana dan mendapat ridho ilahi. Maafkanlah cucumu yang tak mengerti dengan petuah-petuahmu. sifat kenak kananku yang selama ini hanya bisa membuat mu marah, kini hanya tinggal perasaan menyesal yang tak akan bisa kembali lagi pada waktu itu.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu engkau masih segar dan masih melakukan aktivitas seperti orang Pada umumnya, engkau giat dengan profesimu sebagai petani demi menghidupi keluargamu meskipun tak seberapa besar penghasilanmu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Aku masih ingat pada waktu aku sedang asyik bermain dengan temanku di sebuah lapangan rumah (TANIAN) engkau mengahampiriku dengan wajah khas senyummu yang seakan tak ada kesusahan pada dirimu, di tengah kesibukanmu engkau rela menghampiku untuk memberikan beberapa koin rupiah dan beberapa buah yang sudah engkau petik dari kebun belakang. Padahal engkau sendiri belum merasakan hasil dari buah itu. Sungguh engkau mengajariku ku agar selalu menyangi dan mengasihi anak kecil.
waktu terus berjalan sebagai mana mestinya, begitupun engkau semakin hari semakin tua dan tak banyak yang bisa engkau lakukan seperti dulu dimana kondismu yang sakit-sakitan menambah beban hidupmu. Akan tetapi engkau masih seperti kakekku yang dulu tetap semangat dan masih selalu tersenyum seakan tak ada beban pada dirimu.
Dan pada detik-detik akhir engkau akan menemui panggilan tuhan engkau masih sempat bersenda gurau denganku yang seakan engkau tak sakit apa-apa . kemudian aku pergi untuk menghadiri seminar disalah satu tempat di kota bondowoso, tak lama setelah selesai seminar aku membuka handphoneku dan aku mendapat sebuah sms bahwa engkau telah meningal dunia, aku tak bisa berkata apa-apa, hanya air mataku yang mengalir dan tak bisa berbuat sesuatu, akupun bergegas mengambil sepeda motorku untuk pulang dan melakukan penghormatan terakhir pada kakek.
Aku pulang dengan buru-buru dan entah aku tak tau motorku melaju dengan kecepatan berapa, layak seperti orang yang sedang kesetanan, sesampai di rumah aku langsung bersir-bersih diri berhubung prosesi perawatan jenazah hamper selesai dan tinggal mensholatinya. Aku dan para tetangga setempat mensholati kakek. Dan setelah itu kami langsung membawa beliau ke persemayaman terakhir.
Sunguh tak menyangka hari ini engkau di panggil oleh sang pencipta semoga engkau tenang di sana dan mendapat ridho Allah, selamat jalan kakek tanpamu aku tak akan menjadi seperti sekarang. Semoga amal ibadahmu diterima dan dibalas dengan yang lebih besar oleh Allah SWT. Amien ya robbal alamin.
Catatan harian qu
05 januari 2015






0 comments:
Post a Comment