Tuesday, 7 July 2015

Dekadensi Moral Anak Bangsa

Akhlaq generasi muda bangsa dikoyak, saatnya bertindak

       Siang ini seperti biasa, aku bersama kawan-kawan CMC Malang meluncur ke Kucur untuk mengajar dan kami berencana untuk memberikan sedikit game untuk adik-adik. Game tersebut masih berkaitan dengan tema minggu lalu, yaitu menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempatnya. Pukul 13.45 kami sampai di lokasi. Ternyata sekolah masih sepi. Terlihat Apik bersama ibu dan adiknya serta Angga sedang bersantai di masjid samping sekolah. Setengah jam kemudian, adik-adik akhirnya datang. Kami pun mengajar sebentar. Saat itu, aku kebagian kelas 6 SD bersama mitra setia, Yusuf ditambah Ahmad yang tiba-tiba bergabung. Siang ini terasa berbeda daripada siang-siang minggu sebelumnya bahkan bulan-bulan sebelumnya. Hari ini, adik-adik kelas 6 terasa malas untuk belajar. Mereka serasa tak punya gairah lagi untuk membuka buku. Entah apa alasan mereka. Padahal Senin lusa mereka harus menghadapi Try Out. Yusuf pun berusaha untuk menyuruh mereka mengerjakan beberapa soal bahasa Indonesia yang ada di buku Detik-Detik Ujian Nasional. Tetapi, beberapa anak malah menolak untuk mengerjakan soal latihan itu. Saya merasa ada yang tidak beres. Dan benar, setelah beberapa saat, Yusuf mendapati salah satu brosur sekolah kristen dijadikan batas buku oleh seorang murid. Yusuf sontak mengambilnya dan bertanya darimana mereka mendapatkan brosur ini. Ternyata brosur tersebut didapat di sekolah mereka saat guru tidak mengajar di kelas. Saya rasa inilah yang membuat mereka sedikit malas untuk mendengarkan kata-kata kami sebagai remaja muslim yang menginginkan Islam tegak disana.

Pemuda Masa Depan Bangsa

Masa depan suatu bangsa adalah tergantung kepada generasi muda yang saat ini sedang tumbuh berkembang menyerap berbagai macam ilmu. Berbagai macam ilmu tersebut dapat diperoleh dari mana saja karena pengaruh globalisasi, internet, teknologi, dll. Untuk itu para generasi muda harus memiliki filter yang mampu menyaring berbagai macam informasi yang masuk agar tidak salah arah yang dapat mempengaruhi karakter suatu bangsa nantinya.
Begitu penting kedudukan dan peranan pemuda, sampai-sampai Bung Karno berucap,’’ Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” Sehingga sangat pembangunan karakter pemuda demi harapan dan masa depan bangsa Indonesia.