Akhlaq generasi muda bangsa dikoyak, saatnya bertindak
Siang
ini seperti biasa, aku bersama kawan-kawan CMC Malang meluncur ke Kucur
untuk mengajar dan kami berencana untuk memberikan sedikit game untuk
adik-adik. Game tersebut masih berkaitan dengan tema minggu lalu, yaitu
menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempatnya. Pukul 13.45 kami
sampai di lokasi. Ternyata sekolah masih sepi. Terlihat Apik bersama
ibu dan adiknya serta Angga sedang bersantai di masjid samping sekolah.
Setengah jam kemudian, adik-adik akhirnya datang. Kami pun mengajar
sebentar. Saat itu, aku kebagian kelas 6 SD bersama mitra setia, Yusuf
ditambah Ahmad yang tiba-tiba bergabung. Siang ini terasa berbeda
daripada siang-siang minggu sebelumnya bahkan bulan-bulan sebelumnya.
Hari ini, adik-adik kelas 6 terasa malas untuk belajar. Mereka serasa
tak punya gairah lagi untuk membuka buku. Entah apa alasan mereka.
Padahal Senin lusa mereka harus menghadapi Try Out. Yusuf pun berusaha
untuk menyuruh mereka mengerjakan beberapa soal bahasa Indonesia yang
ada di buku Detik-Detik Ujian Nasional. Tetapi, beberapa anak malah
menolak untuk mengerjakan soal latihan itu. Saya merasa ada yang tidak
beres. Dan benar, setelah beberapa saat, Yusuf mendapati salah satu
brosur sekolah kristen dijadikan batas buku oleh seorang murid. Yusuf
sontak mengambilnya dan bertanya darimana mereka mendapatkan brosur ini.
Ternyata brosur tersebut didapat di sekolah mereka saat guru tidak
mengajar di kelas. Saya rasa inilah yang membuat mereka sedikit malas
untuk mendengarkan kata-kata kami sebagai remaja muslim yang
menginginkan Islam tegak disana.





